Paguyuban Empu Wesi Aji Jepara

Call Directions Website Contact the business

Paguyuban Empu Wesi Aji Jepara PANEMWAJA merupakan wadah Paguyuban Empu Wesi Aji Jepara.

21/08/2026

Asyiknya nempa, siapa yang mau ikut?

Yukkk merapat, Museum RA. Kartini

🔥 FESTIVAL EMPU WESI AJI JEPARA 2026 🔥Warisan bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan, dikenalkan, dan diw...
15/08/2026

🔥 FESTIVAL EMPU WESI AJI JEPARA 2026 🔥
Warisan bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan, dikenalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam rangkaian Grebeg Mulud Njeporonan, Paguyuban Empu Wesi Aji Jepara menghadirkan Panemwaja Exhibition – Festival Empu Wesi Aji Jepara 2026, sebuah ruang perjumpaan antara pusaka, sejarah, seni, tradisi, dan semangat pelestarian budaya Nusantara.

📍 Museum R.A. Kartini Jepara
🗓️ Jum'at - Sabtu
📅 21–22 Agustus 2026

Nikmati beragam rangkaian kegiatan:
🔥 Live Tempa Pusaka
⚔️ Pameran Tosan Aji
📚 Edukasi & Sarasehan
đź’Ž Jamasan Pusaka
đźš© Kirab Pusaka
⚔️ Bursa Tosan Aji
🎶 Live Musik

Mari hadir, mengenal lebih dekat jejak para empu, memahami nilai luhur di balik Tosan Aji, serta bersama-sama menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Nyawiji, Ngabekti, Ambangun Nagari, Kanti Tata lan Tradisi.

📣 Catat tanggalnya dan ajak keluarga, sahabat, serta pecinta budaya untuk menjadi bagian dari Festival Empu Wesi Aji Jepara 2026!

21–22 Agustus 2026 | Museum R.A. Kartini Jepara

GrebegMulud BudayaJepara PusakaNusantara WarisanBudaya PelestarianBudaya MuseumRAKartini Jepara2026 WonderfulJepara BudayaNusantara

✨ FESTIVAL EMPU – WESI AJI JEPARA 2026 ✨Grebeg Mulud | Merawat Tradisi, Menjaga Warisan BudayaJepara bukan hanya tentang...
15/08/2026

✨ FESTIVAL EMPU – WESI AJI JEPARA 2026 ✨
Grebeg Mulud | Merawat Tradisi, Menjaga Warisan Budaya

Jepara bukan hanya tentang ukiran. Di balik perjalanan budayanya, tersimpan p**a warisan Tosan Aji yang sarat akan nilai sejarah, keterampilan, filosofi, serta laku para empu.

Mari menyaksikan dan meramaikan Festival Empu – Wesi Aji Jepara 2026, sebuah ruang perjumpaan antara karya, pengetahuan, tradisi, dan pelestarian pusaka Nusantara.

📍 Museum R.A. Kartini Jepara
📅 21–22 Agustus 2026

🔥 **Jumat, 21 Agustus 2026**
• 08.30 WIB — Pembukaan
• 10.00 WIB — Live Tempa Pusaka
• 13.30 WIB — Sarasehan Tosan Aji
• 19.00 WIB — Live Music

⚔️ **Sabtu, 22 Agustus 2026**
• 08.00 WIB — Pameran Hari ke-2
• 10.00 WIB — Jamasan Pusaka
• 19.00 WIB — Kirab Pusaka
• 20.30 WIB — Panggung Hiburan

“Wesi Aji — Karya, Temuan, Material & Laku”

Mari bersama-sama mengenal lebih dekat karya para empu, memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Tosan Aji, serta menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan lestari dari generasi ke generasi.

📌 Catat tanggalnya dan ramaikan Festival Empu – Wesi Aji Jepara 2026!**

Nyawiji, Ngabekti, Ambangun Nagari Kanthi Tata Lan Tradisi.

EmpuJepara PusakaNusantara BudayaJepara Jepara MuseumRAKartini JamasanPusaka KirabPusaka Panemwaja VisitJepara PesonaJepara

🏛️✨ AYO BERKUNJUNG KE MUSEUM, KENALI WARISAN PARA EMPU!Museum bukan hanya tempat menyimpan benda-benda lama. Di dalamnya...
15/08/2026

🏛️✨ AYO BERKUNJUNG KE MUSEUM, KENALI WARISAN PARA EMPU!

Museum bukan hanya tempat menyimpan benda-benda lama. Di dalamnya tersimpan cerita, pengetahuan, keterampilan, dan jejak perjalanan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam rangka Festival Empu – Wesi Aji Jepara 2026, mari berkunjung ke Museum R.A. Kartini Jepara dan mengenal lebih dekat dunia Empu, Wesi Aji, dan Tosan Aji

⚒️ Siapa sebenarnya seorang Empu?
🔥 Bagaimana besi ditempa hingga menjadi karya bernilai tinggi?
⚔️ Apa yang dimaksud dengan Wesi Aji dan Tosan Aji?
📚 Nilai sejarah, filosofi, keterampilan, dan tradisi apa yang terkandung di dalamnya?

Semua dapat dipelajari lebih dekat melalui pengalaman berkunjung, melihat koleksi, menyaksikan proses, serta berinteraksi dengan para pelaku dan pemerhati budaya.

📍 Museum R.A. Kartini Jepara
📅 21–22 Agustus 2026

Ajak anak-anak, keluarga, pelajar, komunitas, dan sahabat untuk datang bersama.

Mari jadikan kunjungan ke museum sebagai perjalanan edukasi budaya—mengenal karya para empu, memahami Tosan Aji, dan ikut menjaga warisan Nusantara agar tetap hidup.

✨ Datang untuk melihat, p**ang membawa pengetahuan.

AyoKeMuseum EdukasiBudaya BudayaJepara WarisanNusantara PusakaNusantara GrebegMulud Jepara

MIKJEPARA.com, JEPARA – Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, Joko memilih menempuh jala...
06/08/2026

MIKJEPARA.com, JEPARA – Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, Joko memilih menempuh jalan yang tidak biasa. Pemuda asal Jepara tersebut menekuni profesi sebagai Mpu/Empu atau pembuat pusaka tosan aji.

Profesi ini tentunya membutuhkan pengetahuan, ketekunan, keterampilan metalurgi, serta pemahaman mendalam terhadap nilai budaya Nusantara.

Joko bukan sekadar belajar membuat keris secara otodidak. Ia merupakan lulusan Program Studi Keris di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Bersama teman-temannya yang juga berasal dari Jepara, kini ia telah lulus sebagai Sarjana Terapan Seni.

Pendidikan tersebut menjadi landasan penting bagi pemuda bernama lengkap Joko Prasetyo Utomo dalam memahami keris dari sisi teknik, seni, sejarah, filosofi, hingga pelestarian budaya.

Ketertarikan Joko terhadap keris tumbuh dari lingkungan budaya Jepara yang kuat. Daerah tersebut tidak hanya dikenal melalui seni ukirnya, tetapi juga memiliki tradisi pengolahan logam dan pembuatan benda-benda seni yang dibuktikan dengan keberadaan makam para empu-empu sepuh era dahulu.

Ketertarikan tersebut kemudian membawanya untuk mempelajari keris secara lebih serius melalui pendidikan formal di Prodi Keris.

Selama menempuh pendidikan di ISI Surakarta, Joko mempelajari berbagai tahapan pembuatan keris. Ia belajar memilih bahan, mengolah besi dan baja, menyusun pamor, menempa bilah, membentuk dapur, hingga melakukan proses penyelesaian akhir.

Setiap tahapan membutuhkan ketelitian karena kesalahan kecil dapat memengaruhi bentuk, kekuatan, dan nilai artistik keris.

Manjak Empu Subandi

Bagi Joko, keris bukan sekadar senjata tradisional atau benda koleksi. Keris merupakan karya seni yang menyimpan pengetahuan, doa, harapan, serta pesan kehidupan. Setiap bentuk bilah, dapur, luk, dan pamor memiliki karakter dan makna yang berbeda.

Kini, ia telah merintis profesi sebagai Panjak Empu Keris. Atau sebagai asisten mapupun pembantu utama Empu Subandi di Besalen Omah Keris Karanganyar. Sedangkan di Jepara, saat ini ia bersama teman-teman dari Paguyuban Empu Wesi Aji Jepara (Panemwaja) tengah menyiapkan acara pada Agustus mendatang.

Menurut Joko, masyarakat perlu memahami keris secara rasional dan berdasarkan pengetahuan budaya. Keris tidak seharusnya hanya dikaitkan dengan cerita mistis. Di balik sebilah keris terdapat proses penciptaan yang panjang, kemampuan teknis, penguasaan bahan, serta nilai estetika yang tinggi.

Dalam proses pembuatannya, Joko menggunakan teknik tempa lipat dengan menggabungkan besi, baja, dan bahan pamor. Logam tersebut ditempa berulang kali hingga menghasilkan struktur bilah yang kuat serta pola pamor yang khas.

Proses ini membutuhkan pengaturan suhu, kekuatan pukulan, komposisi bahan, dan ketepatan pelipatan.

Bahan pamor yang digunakan dapat berasal dari logam yang mengandung unsur nikel. Dalam tradisi tertentu, beberapa Mpu juga menggunakan material meteorit. Namun, Joko menilai kualitas keris tidak hanya ditentukan oleh kelangkaan bahan.

Kemampuan Mpu dalam mengolah bahan menjadi bilah yang kuat, indah, dan memiliki karakter menjadi unsur yang lebih penting.

Pertemuan antara besi, baja, dan pamor juga memiliki makna filosofis. Perbedaan unsur dapat disatukan melalui proses panjang untuk menghasilkan kekuatan baru. Nilai tersebut menggambarkan bahwa manusia perlu menjaga keseimbangan antara kemampuan, ketekunan, tujuan hidup, dan hubungan dengan Tuhan.

Menjadi Mpu muda di era digital memiliki tantangan tersendiri. Profesi pembuat keris masih sering dianggap kuno dan tidak sesuai dengan kehidupan modern.

Joko juga menghadapi pandangan masyarakat yang belum memahami bahwa pembuatan keris memiliki nilai seni, sejarah, pendidikan, dan ekonomi.

Namun, anggapan tersebut tidak menyurutkan langkahnya. Joko justru melihat perkembangan teknologi sebagai peluang untuk memperkenalkan keris kepada masyarakat yang lebih luas.

Media sosial dapat digunakan untuk menunjukkan proses penempaan, mengenalkan jenis pamor, menjelaskan bentuk keris, serta meluruskan pemahaman yang keliru.

Joko menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi perkerisan. Pelestarian tidak cukup dilakukan dengan menyimpan keris sebagai koleksi.

Generasi muda juga perlu mempelajari sejarah, teknik pembuatan, etika kepemilikan, serta nilai yang terkandung di dalamnya.

Menurutnya, anak muda tidak perlu merasa takut atau malu untuk mengenal keris. Keris merupakan bagian dari identitas budaya Indonesia, khususnya dalam kebudayaan Jawa. Keris juga telah berkembang menjadi karya seni yang dapat dipelajari melalui pendekatan akademik, sejarah, antropologi, seni rupa, dan teknologi logam.

Latar belakang pendidikan Joko di Program Studi Keris ISI Surakarta menunjukkan bahwa tradisi perkerisan dapat dipelajari secara sistematis. Pengetahuan tradisional dapat berjalan berdampingan dengan pendidikan formal.

Keduanya dapat memperkuat proses pelestarian serta meningkatkan kualitas karya para Mpu muda.

Sebagai pemuda asal Jepara, Joko berharap daerahnya dapat mengembangkan potensi seni keris sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal. Jepara memiliki sumber daya perajin, tradisi seni, dan masyarakat yang dekat dengan kegiatan kreatif.

Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui pendidikan, pameran, festival, lokakarya, serta wisata budaya.

Joko juga berharap semakin banyak ruang yang diberikan kepada Mpu muda untuk berkarya. Dukungan pemerintah, komunitas, lembaga pendidikan, dan masyarakat sangat dibutuhkan.

Dukungan tersebut dapat berupa pelatihan, akses bahan, ruang pameran, perlindungan karya, promosi, serta penguatan pasar keris yang sehat dan transparan.

Baginya, menjaga tradisi bukan berarti menolak perkembangan zaman. Tradisi harus terus dipelajari, dikembangkan, dan diperkenalkan dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern.

Melalui langkah tersebut, keris tidak hanya akan menjadi cerita tentang masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai karya seni, pengetahuan, dan identitas bangsa.

Ia ingin membuktikan bahwa generasi muda dapat mengambil peran dalam menjaga warisan leluhur. Melalui pendidikan, proses kreatif, dan konsistensi berkarya, ia berupaya memastikan profesi Mpu tetap memiliki tempat di tengah masyarakat.

“Keris bukan benda yang harus ditakuti. Keris adalah karya budaya yang perlu dipahami, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegas Joko.

Baca Selengkapnya :
https://mikjepara.com/jebolan-isi-surakarta-joko-hidupkan-tradisi-pembuatan-keris-di-jepara/

MIKJEPARA.com, JEPARA – Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, Joko memilih menempuh jalan yang tidak biasa

MIKJEPARA.com, JEPARA – Jejak tradisi pembuatan keris di Kota Ukir Jepara perlahan mulai terungkap melalui sebuah catata...
06/08/2026

MIKJEPARA.com, JEPARA – Jejak tradisi pembuatan keris di Kota Ukir Jepara perlahan mulai terungkap melalui sebuah catatan etnografis yang diterbitkan pada awal abad ke-20.

Catatan tersebut menyebutkan bahwa pada sekitar 1910 masih terdapat dua empu atau ahli pembuat keris yang aktif di wilayah Jepara. Keberadaan keduanya menjadi bagian penting dalam sejarah seni tempa logam dan kebudayaan tosan aji di kawasan pesisir utara Pulau Jawa.

Data mengenai empu tersebut dikaitkan dengan tulisan peneliti Belanda Isaäc Groneman berjudul Der Kris der Javaner. Khususnya pada halaman 199–200, disebutkan 2 empu tersebut masih aktif memproduksi benda tosan aji di era kolonial.

Isaäc Groneman sendiri merupakan seorang dokter, fotografer, etnograf, dan pegawai kolonial Belanda yang cukup berpengaruh di Hindia Belanda (khususnya Yogyakarta) pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam dokumentasi visual dan budaya Jawa pada masa kolonial. Koleksi foto-fotonya kini banyak tersimpan di berbagai institusi seperti KITLV di Leiden, dan perpustakaan besar.

Dalam catatan mengenai keberadaan pembuat keris di sejumlah wilayah Jawa, Keresidenan Semarang disebut masih memiliki satu empu di Kudus dan dua empu di Jepara.

Dari catatan itu tidak mencantumkan nama pribadi kedua empu tersebut maupun lokasi tempat tinggalnya secara terperinci.

Moh Khanif, sekretaris Paguyuban Empu wesi Aji Jepara (Panemwaja) menyebutkan bahwa saat ini keberadaan salah satu tokoh tersebut sebenarnya sudah mulai terungkap dari penelusuran beberapa tahun terakhir di wilayah Tegalsambi Kecamatan Tahunan Jepara.

Catatan tahun 1910 itu juga memperlihatkan bahwa profesi empu mulai mengalami kemunduran di luar wilayah Vorstenlanden (red: Yogyakarta dan Surakarta).

Di sejumlah daerah, jumlah empu semakin sedikit dan mutu hasil pekerjaannya dinilai tidak lagi setinggi masa sebelumnya.

Sebaliknya, tradisi pembuatan keris di lingkungan keraton Yogyakarta dan Surakarta masih bertahan dengan kedudukan serta kualitas pengerjaan yang relatif lebih baik.

Lebih dari satu abad setelah catatan tersebut diterbitkan, upaya penelusuran kembali jejak empu Jepara mengarah ke Desa Tegalsambi.

Sejumlah pegiat pelestarian tosan aji menyatakan telah menemukan dua makam di desa tersebut yang diduga berkaitan erat dengan dua nama empu Jepara.

“Namun, hubungan antara makam itu dan catatan Groneman masih memerlukan penelitian lebih lanjut melalui arsip, silsilah keluarga, keterangan pada nisan, dan tradisi lisan masyarakat setempat,” imbuhnya.

Salah satu nama yang hidup dalam penuturan masyarakat Tegalsambi adalah Empu Suro. Tokoh tersebut dipercaya sebagai seseorang yang memiliki keahlian dalam mengolah besi dan membuat keris.

Selain juga adanya keberadaan tokoh Empu Supo yang yang diyakini lebih tua, dan makamnya bisa kita jumpai sekarang di Desa Tegalsambi.

Nama Empu Suro kemudian dikaitkan dengan kemungkinan keberadaan salah satu dari dua empu Jepara yang dicatat pada awal abad ke-20.

Meski demikian, nama Empu Suro belum ditemukan secara langsung dalam sumber tertulis Groneman yang tersedia. Karena itu, keterkaitannya dengan catatan tahun 1910 masih perlu ditempatkan sebagai dugaan yang bersumber dari ingatan kolektif atau tradisi lisan masyarakat.

Nama tersebut belum dapat dinyatakan secara pasti sebagai salah satu dari dua empu Jepara tanpa adanya bukti tambahan yang dapat diverifikasi.

Bagi masyarakat Tegalsambi, keberadaan nama Empu Suro tetap memiliki arti penting. Sosok tersebut menunjukkan bahwa desa yang selama ini dikenal melalui tradisi budaya dan kehidupan masyarakat pesisir kemungkinan juga pernah menjadi salah satu pusat keterampilan tempa keris di Jepara.

Dugaan tersebut semakin menguat setelah ditemukan makam yang oleh pegiat budaya setempat dipercaya berkaitan dengan para empu terdahulu. Bahkan penelusuran tersebut dikuatkan dengan sumber wawancara dari trah garis keturunannya.

Penelusuran mengenai Empu Suro juga membuka peluang penelitian sejarah lokal yang lebih luas. Arsip pemerintahan kolonial Keresidenan Semarang, dokumen desa, catatan keluarga, serta keterangan para sesepuh dapat digunakan untuk menelusuri identitas, masa hidup, dan karya yang pernah dihasilkan.

Penelitian juga diperlukan untuk mengetahui apakah keris buatan empu Jepara memiliki bentuk, motif pamor, atau karakter pengerjaan yang berbeda dari daerah lain.

Jejak Empu Suro dan empu-empu Jepara dalam catatan tahun 1910 tidak hanya berkaitan dengan sejarah keris. Catatan tersebut menggambarkan keberadaan pengetahuan, keterampilan, dan warisan budaya yang pernah tumbuh di tengah masyarakat Jepara.

Dengan penelitian yang lebih mendalam, nama Empu Suro dapat ditempatkan secara lebih jelas dalam sejarah Tegalsambi dan perkembangan seni tempa tradisional di Jawa

Baca Selengkapnya :
https://mikjepara.com/menelusuri-jejak-empu-suro-perajin-keris-tegalsambi-yang-diduga-tercatat-isaac-groneman-pada-1910/

MIKJEPARA.com, JEPARA – Jejak tradisi pembuatan keris di Kabupaten Jepara perlahan mulai terungkap melalui catatan etnografis tahun 1910

Address

Jalan Kemlokomanis No. 04, RT. 03/RW. 02, Kemloko Manis, Tengguli, Kec. Bangsri
Jepara
59453

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Paguyuban Empu Wesi Aji Jepara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Paguyuban Empu Wesi Aji Jepara:

Shortcuts

Share

Nearby furniture stores