06/08/2026
MIKJEPARA.com, JEPARA – Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, Joko memilih menempuh jalan yang tidak biasa. Pemuda asal Jepara tersebut menekuni profesi sebagai Mpu/Empu atau pembuat pusaka tosan aji.
Profesi ini tentunya membutuhkan pengetahuan, ketekunan, keterampilan metalurgi, serta pemahaman mendalam terhadap nilai budaya Nusantara.
Joko bukan sekadar belajar membuat keris secara otodidak. Ia merupakan lulusan Program Studi Keris di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Bersama teman-temannya yang juga berasal dari Jepara, kini ia telah lulus sebagai Sarjana Terapan Seni.
Pendidikan tersebut menjadi landasan penting bagi pemuda bernama lengkap Joko Prasetyo Utomo dalam memahami keris dari sisi teknik, seni, sejarah, filosofi, hingga pelestarian budaya.
Ketertarikan Joko terhadap keris tumbuh dari lingkungan budaya Jepara yang kuat. Daerah tersebut tidak hanya dikenal melalui seni ukirnya, tetapi juga memiliki tradisi pengolahan logam dan pembuatan benda-benda seni yang dibuktikan dengan keberadaan makam para empu-empu sepuh era dahulu.
Ketertarikan tersebut kemudian membawanya untuk mempelajari keris secara lebih serius melalui pendidikan formal di Prodi Keris.
Selama menempuh pendidikan di ISI Surakarta, Joko mempelajari berbagai tahapan pembuatan keris. Ia belajar memilih bahan, mengolah besi dan baja, menyusun pamor, menempa bilah, membentuk dapur, hingga melakukan proses penyelesaian akhir.
Setiap tahapan membutuhkan ketelitian karena kesalahan kecil dapat memengaruhi bentuk, kekuatan, dan nilai artistik keris.
Manjak Empu Subandi
Bagi Joko, keris bukan sekadar senjata tradisional atau benda koleksi. Keris merupakan karya seni yang menyimpan pengetahuan, doa, harapan, serta pesan kehidupan. Setiap bentuk bilah, dapur, luk, dan pamor memiliki karakter dan makna yang berbeda.
Kini, ia telah merintis profesi sebagai Panjak Empu Keris. Atau sebagai asisten mapupun pembantu utama Empu Subandi di Besalen Omah Keris Karanganyar. Sedangkan di Jepara, saat ini ia bersama teman-teman dari Paguyuban Empu Wesi Aji Jepara (Panemwaja) tengah menyiapkan acara pada Agustus mendatang.
Menurut Joko, masyarakat perlu memahami keris secara rasional dan berdasarkan pengetahuan budaya. Keris tidak seharusnya hanya dikaitkan dengan cerita mistis. Di balik sebilah keris terdapat proses penciptaan yang panjang, kemampuan teknis, penguasaan bahan, serta nilai estetika yang tinggi.
Dalam proses pembuatannya, Joko menggunakan teknik tempa lipat dengan menggabungkan besi, baja, dan bahan pamor. Logam tersebut ditempa berulang kali hingga menghasilkan struktur bilah yang kuat serta pola pamor yang khas.
Proses ini membutuhkan pengaturan suhu, kekuatan pukulan, komposisi bahan, dan ketepatan pelipatan.
Bahan pamor yang digunakan dapat berasal dari logam yang mengandung unsur nikel. Dalam tradisi tertentu, beberapa Mpu juga menggunakan material meteorit. Namun, Joko menilai kualitas keris tidak hanya ditentukan oleh kelangkaan bahan.
Kemampuan Mpu dalam mengolah bahan menjadi bilah yang kuat, indah, dan memiliki karakter menjadi unsur yang lebih penting.
Pertemuan antara besi, baja, dan pamor juga memiliki makna filosofis. Perbedaan unsur dapat disatukan melalui proses panjang untuk menghasilkan kekuatan baru. Nilai tersebut menggambarkan bahwa manusia perlu menjaga keseimbangan antara kemampuan, ketekunan, tujuan hidup, dan hubungan dengan Tuhan.
Menjadi Mpu muda di era digital memiliki tantangan tersendiri. Profesi pembuat keris masih sering dianggap kuno dan tidak sesuai dengan kehidupan modern.
Joko juga menghadapi pandangan masyarakat yang belum memahami bahwa pembuatan keris memiliki nilai seni, sejarah, pendidikan, dan ekonomi.
Namun, anggapan tersebut tidak menyurutkan langkahnya. Joko justru melihat perkembangan teknologi sebagai peluang untuk memperkenalkan keris kepada masyarakat yang lebih luas.
Media sosial dapat digunakan untuk menunjukkan proses penempaan, mengenalkan jenis pamor, menjelaskan bentuk keris, serta meluruskan pemahaman yang keliru.
Joko menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi perkerisan. Pelestarian tidak cukup dilakukan dengan menyimpan keris sebagai koleksi.
Generasi muda juga perlu mempelajari sejarah, teknik pembuatan, etika kepemilikan, serta nilai yang terkandung di dalamnya.
Menurutnya, anak muda tidak perlu merasa takut atau malu untuk mengenal keris. Keris merupakan bagian dari identitas budaya Indonesia, khususnya dalam kebudayaan Jawa. Keris juga telah berkembang menjadi karya seni yang dapat dipelajari melalui pendekatan akademik, sejarah, antropologi, seni rupa, dan teknologi logam.
Latar belakang pendidikan Joko di Program Studi Keris ISI Surakarta menunjukkan bahwa tradisi perkerisan dapat dipelajari secara sistematis. Pengetahuan tradisional dapat berjalan berdampingan dengan pendidikan formal.
Keduanya dapat memperkuat proses pelestarian serta meningkatkan kualitas karya para Mpu muda.
Sebagai pemuda asal Jepara, Joko berharap daerahnya dapat mengembangkan potensi seni keris sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal. Jepara memiliki sumber daya perajin, tradisi seni, dan masyarakat yang dekat dengan kegiatan kreatif.
Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui pendidikan, pameran, festival, lokakarya, serta wisata budaya.
Joko juga berharap semakin banyak ruang yang diberikan kepada Mpu muda untuk berkarya. Dukungan pemerintah, komunitas, lembaga pendidikan, dan masyarakat sangat dibutuhkan.
Dukungan tersebut dapat berupa pelatihan, akses bahan, ruang pameran, perlindungan karya, promosi, serta penguatan pasar keris yang sehat dan transparan.
Baginya, menjaga tradisi bukan berarti menolak perkembangan zaman. Tradisi harus terus dipelajari, dikembangkan, dan diperkenalkan dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern.
Melalui langkah tersebut, keris tidak hanya akan menjadi cerita tentang masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai karya seni, pengetahuan, dan identitas bangsa.
Ia ingin membuktikan bahwa generasi muda dapat mengambil peran dalam menjaga warisan leluhur. Melalui pendidikan, proses kreatif, dan konsistensi berkarya, ia berupaya memastikan profesi Mpu tetap memiliki tempat di tengah masyarakat.
“Keris bukan benda yang harus ditakuti. Keris adalah karya budaya yang perlu dipahami, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegas Joko.
Baca Selengkapnya :
https://mikjepara.com/jebolan-isi-surakarta-joko-hidupkan-tradisi-pembuatan-keris-di-jepara/
MIKJEPARA.com, JEPARA – Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, Joko memilih menempuh jalan yang tidak biasa